Karena kerja merupakan kondisi dasar yang utama untuk seluruh keberadaan manusia, dan sedemikian rupa dalam satu kerangka berpikir kita bisa mengatakan bahwa kerjalah yang menciptakan manusia itu sendiri…1

Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan memiliki kemampuan untuk mengentaskan mereka dari keterasingan, kebodohan hingga kelaparan. Kehidupan yang dibayangkan adalah sebuah kumpulan makhluk yang utuh dan terpenuhi hasrat hidup baik itu secara lahir maupun batin. Perguliran zaman memberikan manusia pengalaman berharga atas berbagai kegagalan yang akan terus dikoreksi semata-mata sebagai usaha untuk mencapai tujuan hidup yang utama; yakni kebahagiaan. Namun naluri untuk tetap hidup tersebut, kadangkala dibarengi pula dengan persaingan antar pihak yang tidak sehat. Perebutan atas persaingan itu terjadi akibat kerakusan satu pihak atas pihak yang lain.

Manusia telah mengalami bermacam tahapan era keterbukaan dalam mencari peraduan yang sejati, dan mereka terus berinovasi atas eksploitasi alam dan juga dengan hubungan sosial masyarakatnya. Sehingga terbentuk sebuah perubahan yang signifikan sebagai tanda kemampuan mereka dalam mengolah cita, rasa dan karsa. Setelah kolonialisme, kita terinvasi oleh gelombang industri maju yang memasuki wilayah pemenuhan berbagai kemudahan melalui varian produk komoditi terbarukan.

Dengungan modernisasi menghantarkan kita pada pergeseran era tradisional menjadi sebuah wadah industri yang mengeksploitir buruh dan menghisap setiap kebahagiaan mereka pada tahap yang paling menyengsarakan. Tak terkecuali adalah ranah budaya yang dikomodifikasi olah kaum kapitalis menjadi industri dengan bentuk baru, serta sistem kerja baru bagi pelaku budaya.

Industri global telah mengubah paradigma pelaku budaya dalam pemahaman proses bekerja dan juga membawa eksistensi diri mereka sebagai manusia yang determinis terhadap ekonomi. Hal ini pun terjadi terhadap para buruh batik tulis. Para buruh—yang mayoritas adalah perempuan—ini merupakan penopang utama bagi industri kapitalis dengan beragam komodifikasi yang dibentuknya. Namun pertanyaannya bagaimanakah nasib mereka? Apakah nasib mereka indah sebagaimana batik tulis yang mereka buat? Tulisan ini ingin mencoba menelusuri jejak mengenai narasi para buruh batik tulis sebagai pelaku budaya beserta pergeseran kebudayaan yang mengiringi keberadaannya di saat siklus industri kapitalis global memasuki relung kehidupan mereka.

Kapitalisme Sebagai Dikotomi Umat Manusia

Manusia menciptakan barang-barang sebagai ekpresi dirinya dengan maksud agar dapat dimengerti oleh sesamanya. Manusia menciptakan barang-barang demi kepentingan diri dan sesamanya. Jadi barang-barang itu diciptakan demi manusia, meski dalam kenyataannya sering terjadi bahwa barang-barang bersifat otonom, atau bahkan “membedakan” sang manusia.2

Kecenderungan dari industri membuat populasi manusia sebagai tujuan yang sentral selain sebagai penggerak produksi dan reproduksi kuasa juga secara alamiah memperjual-belikan tenaga manusia (human labor) dengan harga yang tidak sepantasnya. Gelombang kapitalisme mulai digulirkan sejak penemuan teknologi yang menggantikan cara tradisional. Tak hanya itu, kapitalisme pun membuat cemas para pekerja oleh persoalan penemuan berbagai mesin yang memudahkan pengerjaan dan berbuah pada minimnya upah. Selain itu, paradigma tentang persaingan yang didengungkan kaum kapitalis menjadikan sang buruh memaksakan diri bekerja, hingga ia teralienasi sebagai makhluk hidup yang paling esensi, sebagai makhluk sosial bahkan dengan proses hingga produk buatan mereka sendiri. Sistem kerja para kapitalis memanipulasi bentuk kreativitas pekerja sedemikian rupa agar para buruh dibodohkan oleh situasi yang dianggap sudah sepantasnya mereka terima. Kesadaran mereka disemukan dengan berbagai perampasan diri semata-mata untuk memperkaya pemilik modal.

Inti dari praktek ideologi kapitalisme adalah pemahaman kepada manusia akan penciptaan komoditas dan keinginan dalam memahami secara natural dengan membangun pola berpikir bahwa barang komoditas diproduksi dan dikonstruksikan untuk dapat memecahkan serta memudahkan berbagai permasalahan hidup. Kesadaran manusia dikerangkakan menjadi konsumeris tak berkesudahan dan terkomodifikasi ke dalam beberapa tataran komoditas yang menentukan status sosialnya.

Manusia haruslah menjadi makhluk summun bonnum atau makhluk yang memiliki kebaikan dan kebijakan tertinggi, tidak terpisahkan olah darinya sebagai bagian dari masyarakat. Karl Heinrich Marx percaya bahwa manusia mendambakan hubungan setara, timbal balik serta tak dapat dibeli dengan uang.3 Oleh karena itu teori yang banyak berkembang dewasa ini mengenai modernisasi menjadi cermin betapa kapitalisme telah mendekonstruksi esensi manusia yang sesungguhnya. Kaum kapitalis mengeksploitasi tenaga kerja buruh lewat produksi komoditi dan membayar mereka dengan upah kecil namun mengikatnya untuk selalu mengalokasikan tenaga mereka pada jaringan proses eksplorasi tak berkesudahan.

Sedang bagi pemilik modal, mereka mengalokasikan kekayaannya dengan berinvestasi melalui penguasaan hak milik pribadi atas alat kerja hingga mereka akan mendapatkan refleksi atas kepemilikan alat kerja tersebut dari keuntungan produksi komoditi yang mereka “apropriasi” dari pekerja. Dengan ini pemilik modal bertujuan mencapai keuntungan sebanyak-banyaknya lewat pertukaran jasa dan barang yang menguntungkan pemilik modal melalui cara yang tidak lazim, yaitu penghisapan. Pola ini kemudian dikenal dengan istilah surplus value (nilai lebih).4

Bagi Karl Marx perjuangan manusia adalah perjuangan melawan kelas-kelas dalam masyarakat, namun kepemilikan pribadi atas alat produksi telah menciptakan kelas dalam masyarakat itu sendiri. Kelas atas yaitu pemilik modal memiliki sekaligus meng-kontrol alat produksi agar kelas bawah atau buruh pekerja menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada proses kerja yang diatur pemilik modal. Hubungan ini berdasarkan kekuasaan yaitu kemampuan majikan untuk meniadakan kesempatan buruh untuk berkerja dan memperoleh nafkah dipakai untuk menindas keinginan kaum buruh untuk menguasai pekerjaan mereka sendiri, untuk tidak dihisap, agar kaum buruh bekerja seluruhnya demi mereka.5
Pembahasan dalam Das Kapital dimulai dari apa yang disebut komoditas. Dalam usaha untuk membuat barang dagangan untuk dijual dilakukan melalui satu fase, yaitu sejumlah uang yang disimpan dalam proses produksi untuk menghasilkan uang yang lebih besar, rumus dasarnya adalah: M (Money) C (Comodity) M (Money)6
Uang yang diubah menjadi komoditi dan dengan penjualan diubah kembali untuk menghasilkan lebih banyak uang. Meski begitu ketika produksi komoditi dihentikan, sang pemilik modal tetap dapat menikmati uang hasil keuntungan yang didapat atau disimpan ketika proses produksi tersebut berjalan, namun sebaliknya bagi buruh, kondisinya akan semakin merana karena kehilangan upah yang selama ini mereka gantungkan bagi kelangsungan hidup mereka.

Bentuk konsekuensi dari kapitalisme adalah kaum kapitalis berusaha terus mengeksternalisasi kekuasaannya melalui jaringan citra yang terus mereka bangun dalam rangka terus melanggengkan kedudukannya sebagai borjuis, mereka menanamkan norma-norma dan kebiasaan mereka sehingga lapis bawah (proletar) hidup dalam kesadaran semu (false consciousness). Salah satu bentuk tersebut yaitu dengan fetisisme (fetishism) yang merupakan sikap pemberhalaan manusia terhadap barang komoditi yang diproduksi oleh kapitalis melalui industri modern, mereka dibuat terlena dengan kemudahan serta menciptkan ketergantungan terhadap barang komoditi sehingga secara langsung menghambat pengembangan potensi diri manusia baik buruh maupun konsumen yang sekedar menjadi pemuja komoditi.

Dengan berlangsungnya kapitalisme di hampir setiap negara di dunia, seakan menutupi keburukan penindasan buruh pekerja melalui organisasi pembangunan di berbagai sektor, termasuk ranah budaya bangsa. Namun, pada kenyataannya ranah budaya ini turut digoyangkan oleh berbagai pengaruh globalisasi industri seperti dalam wilayah deteritorialisasi. Tantangan terberatnya adalah bagaimana kebudayaan dapat lestari dan pelaku budaya dapat eksis di tengah pergeseran ke arah yang demikian.

Budaya Sebagai Perwujudan Perubahan

Budaya merupakan manifestasi tak terelakan dari sebuah masyarakat yang patut untuk terus dijaga dan diperhatikan agar lestari serta dapat diselenggarakan oleh generasi selanjutnya sebagai hasil dari perjalanan panjang yang membentuk identitas utuh umat manusia. Budaya juga membentuk manusia pada perkembangan kearifan serta kreativitas yang senantiasa mengakomodasi perubahan setiap budaya menuju arah yang lebih baik dan dapat berkesinambungan dengan zamannya. Penentuan standarisasi hidup memang semakin tinggi dengan terlibatnya berbagai teknologi yang mengubah paradigma zaman sebelumnya. Setelah revolusi industri digulirkan, kehidupan seolah tak tersisa tanpa persaingan. Yang kuat menggunakan berbagai usahanya untuk mempertahankan kekuasaannya atas kaum yang lemah tak berdaya. Begitupula di dalam ranah produk budaya memasuki wilayah negosiasi baru, yaitu sebagai barang komoditas yang dapat diolah sedemikian rupa untuk diperjual-belikan atas nama keuntungan tertentu.

Batik sebagai khazanah budaya Jawa telah mengilhami masyarakatnya menjadi sebuah identitas yang menunjukkan kreativitas tak terbatas. Batik juga memberikan arti dari kesabaran pembuatnya dalam mengungkapkan isi pikiran serta jiwa yang tersalurkan melalui paduan motif bermakna tinggi. Batik awalnya hanya dibuat untuk keperluan raja serta keluarga besarnya di Jawa, hingga motif batik mencerminkan nilai-nilai tradisional keraton yang tak terelakkan. Orang Jawa percaya bahwa untuk mencapai kebaikan dibutuhkan keseimbangan dan keselarasan antara manusia, lingkungan, dan alam. Keyakinan tersebut termanifestasikan dan terefleksikan dalam budaya material yang dihasilkan dan dikembangkan dalam lingkungan keraton termasuk dalam proses pembuatan batik.7

Setelah era keterbukaan keraton, batik kemudian dieksplorasi oleh rakyatnya sebagai kebanggaan tersendiri bagi pemakainya. Perempuan Jawa adalah pemeran utama dalam mengorganisasi perkembangan batik di luar istana, melalui pemakaian batik sebagai pakaian wajib keseharian mereka. Hingga pertautan dengan zaman yang semakin maju, batik kemudian menjadi barang komoditas yang tak terelakkan.

Ditinjau dari Sejarah Kebudayaan, R. M. Sutjipto Wirjosuprapto, mengatakan bahwa bangsa Indonesia sebelum bertemu dengan kebuduyaan India telah mengenal teknik untuk membuat batik.8 Kata “batik” sendiri berasal dari bahasa Jawa ‘tik’ yang berarti kecil seperti yang disebutkan Kuswadji Kawindrosusanto dalam bukunya Mengenal Seni Batik di Yogyakarta. Arti yang lebih bermakna adalah bermaksud untuk menunjukkan menggambar atau menulis dalam ukuran yang kecil.9

Batik mengalami perkembangan hingga di luar pulau Jawa seperti kepulauan Nusantara, negara tetangga Malaysia, hingga benua Afrika. Namun yang membedakannya adalah pada proses pembuatan batik. Pembuatan batik di Jawa yang menggunakan pena tradisional canting serta motif yang detil serta beragam, berbeda dengan batik khas daerah lain. Batik bahkan memasuki industri besar sejak 250 tahun yang lalu ketika banyak permintaan dari warga Belanda yang mulai berinvasi ke wilayah Hindia.10 Banyaknya permintaan bahkan membuat beberapa pengusaha asal Belanda mendirikan pabrik pembuatan batik di negeri Belanda untuk memenuhi pasar Eropa yang telah cukup mengenal batik.

Tahun 1815–1900 telah terjadi pertumbuhan penduduk yang signifikan dan telah menghasilkan perburuhan baik pada industri menengah maupun industri besar. Katun sebagai bahan utama pembuatan batik bahkan didatangkan dari Belanda untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat Hindia, batik semakin diminati dan memperoleh pasar yang lebih luas. Untuk memenuhi permintaan yang besar terhadap batik, pada tahun 1850 dikenalkan proses pembuatan batik dengan pengaplikasian lilin pada kain dengan tembaga yang dibuat membentuk motif batik yang disebut dengan “cap”.11 Proses ini dapat membuat pekerjaan lebih cepat dan dapat diperoleh jumlah yang lebih banyak.

Lalu bagaimana dengan batik tulis? Tentu tidak ditinggalkan karena memang memiliki esensi yang paling bernilai dari sebuah proses pembatikan. Batik tulis dirasa bernilai tinggi karena mengutamakan kualitas serta proses yang menjunjung tinggi keutamaan karya seni. Meski demikian, bagaimanapun proses pembuatannya, batik sebagai produk budaya bernilai tinggi telah membentuk pola produksi massal yang menciptakan buruh sebagai pengemban tertinggi kelangsungan produk budaya yang menurut Dr. J. A. Brandes dengan teori sepuluh unsur kebudayaan telah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak zaman pra-Hindu.

Penetrasi yang digaungkan oleh kaum kapitalis bertujuan menciptakan dan mengelola relasi produksi atas produk-produk baru dimana manusia menciptakan karya dalam kerjanya menjadi barang dagangan atau dikomodifikasi. Relasi sosial didominasi oleh kerja untuk mereproduksi kapital ini mengubah hubungan lingkungan sosial masyarakat pada logika akumulasi modal pada kegiatan yang berasaskan jual-beli.

Batik Sebagai Komoditas Industri

Mendengar Desa Mbayu Sumurip, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), maka akan segera terbayang sebuah desa sejahtera karena dialiri oleh aliran sungai yang mengalir deras, sejuk. Namun gambaran tersebut tampaknya harus dialihkan dengan realitas perkampungan miskin dan termarjinalkan bahkan tidak ada jalan penghubung yang memadai untuk mencapainya. Gapura yang menunjukkan perbatasan antara Desa Mbayu Sumurip dengan Desa Giri Sari saja tampak sederhana, dengan fasilitas jalan sempit dan permukaannya yang tidak rata serta bertebing. Namun desa ini tetap bersahaja sebagai sentra pembatik yang telah dijalankan penghuninya sejak turun temurun.

Adalah Ibu Narsinah (42 tahun) salah seorang pembatik yang telah mengenal batik sejak usia dini. Ia mengenal membatik dari sang ibu, sejak ia berusia 12 tahun. Baginya, membatik telah menjadi sendi kehidupan saudara-saudara dan warga sekitar Desa Mbayu Sumurip lainnya.

“Pulang sekolah saya dengan mbakyu-mbakyu langsung disuruh mbatik sama ibu, la wong dulu dulu ibu juga disuruh sama si mbah, jadi mbatik ya sudah mendarah-daging.”

Begitu ia menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang bercampur bahasa Jawa. Tak jauh berbeda dengan Ibu Wardi Wiarjo (60 tahun), ibu beranak tiga ini bahkan mengajarkan batik kepada menantunya asal Kediri hingga kini kemudian mantunya pun bisa membantunya membatik jika ada order-an (pesanan, Ed.) batik. Tak hanya membatik pada media kain sutera, wool maupun katun, beberapa bahan seperti kayu, bahkan bambu telah banyak dihasilkan oleh para buruh batik di sini.

Ketika seluruh jaringan pembatik di Desa Mbayu Sumurip telah terstruktur lebih dari tiga generasi, mereka mulai menghadapi tantangan dari pasar yang menjadikan batik sebagai komoditi. Tantangan itu datang dari Usaha Kecil Mandiri (UKM) yang pergerakan jaringan pengelolaannya tidak-lah mengantarkan para pembatik ini pada usaha mandiri, baik itu pembuatan batik dengan proses utuh hingga pemasaran batik yang mereka buat sendiri. Hal yang terjadi justru sebaliknya, mereka justru mendedikasikan usaha pada jaringan tradisional yang sangat bergantung pada segelintir orang yang menjadi perantara atau peng-order pesanan yang datang dari pengusaha batik, lembaga usaha tertentu hingga perorangan.

Kreativitas mereka bukannya tumpul, namun tidak dapat berkembang ke arah jaringan perdagangan yang modern karena usaha yang mereka hasilkan selalu dihisap oleh kaum kapitalis yang akan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari proses panjang produk budaya yang konon kini telah menjadi warisan dunia ini. Mereka tidak bekerja dengan disatukan dalam sebuah tempat produksi, mereka bekerja di dalam lingkungan rumah serta bahkan dengan alat produksi yang mereka miliki sendiri. Namun kerja yang mereka hasilkan, mengasingkan mereka dari realitas usaha mandiri dan kebahagiaan yang belum dapat mereka nikmati. Mereka akhirnya menjadi buruh batik karena ketidakmampuan mereka membebaskan diri dari keterasingan proses, keterasingan produk hingga diri mereka sendiri.

Yang membedakan buruh batik dengan buruh lainnya adalah mereka tidak bekerja dalam pabrik atau lingkungan lain selain rumah mereka sendiri, mereka bahkan memiliki alat produksi sendiri yang digunakan dalam proses bekerja, jam kerjanya tidak menentu dan sangat fleksibel hingga dapat mereka atur sendiri, bahkan kehidupan sosial mereka dirasa terjaga dan terjalin dengan sangat baik. Namun mengapa mereka mengalami keterasingan atau alienasi dalam mendapatkan kebahagiaan tertinggi mereka? Mengapa upah yang mereka dapatkan tidak dapat mengentaskan mereka dari jeratan kemiskinan? Serta mengapa hasil kreativitas sebagai bukti eksistensi diri serta sebagai pelestari budaya bangsa menjadi terkomodifikasi oleh kaum kapitalis?

Buruh Batik: Ironi Dehumanisasi Budaya Indonesia

Proses kerja pembatikan begitu rumit dan membutuhkan daya kreativitas dan kesabaran dari para pembuatnya. Batik tulis yang dikerjakan secara manual diawali dengan persiapan berupa pencorek-an atau penggambaran motif batik dengan pensil pada kain katun putih polos maupun media kain mori, kemudian kain yang telah bermotif tersebut diberi lilin atau malam yang dilekatkan dengan alat canting menurut motif atau biasa disebut dengan ngenggreng, proses ini paling banyak menyita waktu dan tenaga, setiap pelekatan bentuk pada motif tertentu terkadang harus menggunakan satu tarikan nafas hingga tidak memberi bekas potongan-potongan betuk yang kurang baik, atau dikenal dengan istilah mbleber, pengalaman adalah modal para buruh menentukan hasil akhir dari proses ini. Proses selanjutnya adalah memberi warna pada kain dengan cara mencelup atau coletan yang dilanjutkan dengan menghilangkan lilin batik dengan mengerok atau melorod. Beberapa proses ini harus dikerjakan dengan telaten dan berkesinambungan agar menghasilkan kain batik yang berkualitas.

Perkembangan batik yang kian meng-global tampaknya tidak serta merta mensejahterakan pekerjanya, keluarga Ibu Sinah, begitu panggilan dari Ibu Narsinah beserta keluarga lain di Desa Mbayu Sumurip yang menjadi buruh batik masih terkesan jauh dari sejahtera, rumah berdinding kayu, bambu dan bata seadanya menjadi pemandangan yang umum.

Awal stagnasi perkembangan hidup para buruh batik ini diawali oleh ketergantungan mereka terhadap pemberi order kerja atau perantara yang mengorganisir pekerjaan buruh dari pemesanan batik baik itu pengusaha, badan usaha, maupun perorangan yang berasal dari Yogyakarta, Bali hingga Sumatera. Proses pemesanan ini mengalami deformasi dari penyelenggara perantara order kerja diawali ketika terjadi persetujuan kerja sang perantara dengan pemesan, ia akan melanjutkan pesanan kepada para buruh berikut jumlah dan upah yang akan diberikan, namun sang perantara justru memanipulasi upah buruh dengan kesepakatan membeli batik yang telah selesai dikerjakan para buruh tersebut dengan harga sangat murah kemudian menjualkannya kembali kepada pemesan dengan harga lebih mahal, dari sini ia mendapatkan keuntungan tanpa perlu bersusah payah membatik. Hal ini tentu tidak menguntungkan buruh batik sebagai pekerja yang paling berat bertanggung jawab menanggung kualitas serta kecermatan produksi. Para buruh batik tidak memiliki negosiasi yang menguntungkan mereka karena bagi buruh yang terpenting adalah mereka harus bekerja jika tidak, tentu tidak mampu memenuhi kebutuhannya meski upah yang diberikan kurang dari mencukupi.

Perantara order produksi ini ditentukan melalui proses birokrasi dari perangkat desa setempat. Di Desa Mbayu Sumurip yang menjadi posisi perantara ini adalah bapak Muja (bukan nama sebenarnya) yang juga menjabat sebagai ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Giri Sari. Tidak hanya itu bapak Muja pun biasa menyeleksi buruh yang akan ia jatah kerja, proses seleksi tentu menjadi permasalahan tersendiri bagi para buruh karena mereka hanya ditentukan oleh kuasa perantara.

“Biasanya kalo hubungan kita dekat sama pak Muja pesenan-nya lancar, tapi nek nggak ya susah, wong keluarganya juga sama-sama pembatik, mesti kerjaannya dikasihkan keluarganya dulu baru kita”, begitu penjelasan Ibu Sinah sembari mengelus dada.

Petaka semacam ini mengawali ketidakberdayaan para buruh batik dalam mengorganisir secara mandiri pekerjaan membatik karena ketersediaan usaha batik mereka sangat bergantung pada pesanan. Ketika perantara yang sekaligus menjadi kapitalis desa ini mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan menjual batik kepada pemesan atau pengusaha batik, kemudian akan menjadi komoditas barang karena batik akan dijual di toko atau department store milik pengusaha, dan tentu akan dijual dengan harga yang berlipat-lipat hingga sang pengusaha mendapatkan surplus value dari produk batik ini.

Order-an yang dikerjakan buruh batik Desa Mbayu Sumurip hanya berjalan pada pelekatan lilin dengan canting saja, pencorek-an atau penggambaran motif batik dengan pensil biasanya sudah ditentukan oleh pemesan atau memang tidak semua buruh memiliki kemampuan untuk membuat motif bahkan beberapa di antaranya hanya menerima order-an yang telah diberi motif sebelumnya. Bagi buruh yang memiliki kemampuan menggambar motif ini biasanya sering mendapatkan kepercayaan dari perantara bahkan diberi upah tambahan. Proses yang tidak kalah penting yang tidak digarap oleh para buruh batik adalah pewarnaan baik pen-coletan dan pe-lorodan. Hal ini dikarenakan ketidaktersediaan alat serta tempat yang mencukupi bagi para buruh, bahkan beberapa di antaranya mengaku kurang memahami proses yang memang mengharuskan beberapa kali proses pengulangan hingga menghasilkan warna yang diinginkan. Maka ketika akulumasi kerja dibuat berdasarkan rasionalisasi produksi menjadi barang jadi para buruh batik tidak mendapatkan tempat sebagaimana sebuah unit pekerja utuh, mereka tidak dapat berbuat banyak dalam hal menuntut upah selayaknya.

Kapitalisme membentuk dan mengubah tatanan masyarakat buruh secara fundamental dengan mereduksi proses kreativitas hingga memecah-belah proses produksi menjadi serangkaian kerangka-kerangka kerja yang berbeda. Kegiatan Fordism semakin memperlihatkan kedigdayaannya ketika ditingkatkannya fungsi beragam jenis mesin, dalam hal ini buruh batik mendapatkan persaingan dari mesin tekstil yang sanggup menggantikan proses produksi batik tulis dengan proses printing motif batik dalam jumlah berlipat, sebuah rangkaian kerja produksi yang bertolak-belakang dari keluhuran tradisi dengan menjadikannya eksploitasi warisan budaya.

Meski demikian peran Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Kerajinan dan Batik (BBPKB) Yogyakarta telah mencoba untuk menjaring buruh batik pada peningkatan sumber daya manusia dengan menyelenggarakan workshop pewarnaan alamiah, seminar dan berbagai lomba bagi para buruh batik meski kesempatan itu tidak dialami semua buruh. Bahkan pasca bencana gempa 27 Mei 2006 lalu oleh beberapa pencinta dan pemerhati batik yang prihatin akan kondisi para buruh batik di Imogiri, menyelenggarakan kegiatan membatik bersama-sama dengan para buruh-buruh batik dari beberapa desa sentra pembatikan dengan menyediakan tempat, menyelenggarakan pelatihan pewarnaan, memberikan kain mori secara cuma-cuma, bantuan makanan hingga beberapa order batik karena khawatir para buruh akan meninggalkan pekerjaan mereka setelah rumah dan harta mereka yang telah rata tanah.

“Dengan adanya kegiatan tersebut terutama untuk mengatasi rasa putus asa para pembatik setelah bencana gempa bumi dan agar mereka tidak larut dalam kesedihan hingga tidak dapat bekerja kembali”, tutur Ibu Etty Suliantoro penggagas kegiatan ini. Hasil dari kegiatan tersebut sering disebut dengan “Batik Pasca Gempa” yang menunjukkan semangat membatik pasca gempa dan telah dipamerkan di beberapa tempat dan berhasil terjual hingga turut membantu meringankan para buruh.

Ibu Sinah yang sempat mendapatkan juara III Lomba Cipta Batik Tingkat Provinsi tahun 2005 ini mengaku meskipun senang dengan berbagai agenda dan kegiatan yang diprakarsai beberapa pihak hingga ia dan para buruh batik lainnya mulai paham beberapa proses pembatikan secara utuh namun ia maupun para buruh lainnya tidak tertarik untuk memulai mengembangkan fungsionalitas kerja mereka dengan menerima proses pembatikan secara utuh yaitu menerima pengerjaan batik dari pen-corek-an hingga pewarnaan agar apa yang mereka hasilkan menjadi utuh hingga dapat meningkatkan upah. Modal kerja serta tidak adanya bantuan untuk mendirikan sarana berupa tempat yang berfungsi untuk menggarap pewarnaan batik dianggap menjadi alasan utama selain juga karena kekecewaan mereka pada usaha yang telah sebelumnya dirintis.

“Dulu sempat menitipkan batik buatan saya ke koperasi batik pimpinan pak Muja, tapi sudah lama kok tidak ada hasil, malah pas dicek batiknya sudah tidak ada dan waktu ditanya dibilang hilang dan akhirnya cuma diganti kain katun biasa. Jadi tidak minat lagi.”

Upah yang diberikan kepada buruh batik ini beragam, tergantung media yang menjadi bahan dasar utama dan ukuran. Bila media bahannya adalah kain mori untuk kain ukuran selendang biasa dihargai Rp 35.000,00. Untuk kain berukuran 2×1 meter motif sederhana atau sedang dihargai Rp 75.000,00 hingga Rp 125.000,00. Adapun untuk motif yang sangat rumit dengan ukuran kain yang sama namun kadang mencapai waktu 1 bulan pengerjaan hanya dihargai Rp 200.000,00 – Rp 250.000,00 saja. Upah tersebut sudah termasuk lilin atau malam yang mereka sediakan sendiri. Angka ini tentu tidak sebanding dengan harga batik ketika sampai di toko besar dan departement store terkemuka yang untuk selendang saja dihargai hingga Rp 150.000,00, bahkan untuk kain batik bermotif rumit harganya bisa mencapai Rp 600.000,00 hingga jutaan rupiah.

Beberapa peristiwa lain yang merugikan para buruh batik, tidak hanya dengan perantara, namun juga dengan si pemesan. Sebagaimana yang diutarakan oleh Ibu Sinah yang pernah hanya dibayar Rp 10.000,00 saja untuk kain selendang yang dikerjakannya.

“Beberapa bulan lalu kami pernah dapet order-an kain sarung dengan motif yang rumit dan sudah dikerjakan selama dua minggu namun oleh pemesan dirasa kurang cepat dan meminta hasil kerja kami secara sepihak dan hanya memberi upah berupa baju sederhana yang saya tahu baju itu hanya berharga 20 ribuan saja.” Demikian tuturannya.

Ibu Narsinah sering mengharumkan nama Desa Mbayu Sumurip berkat prestasinya menjuarai lomba batik.

(Dokumentasi: Karina Rima Melati)

Dengan demikian, para buruh tidak memperolah keuntungan atau tidak diuntungkan apabila si kapitalis mempertahankan harga pasar di atas harga wajar berkat suatu rahasia manufaktur atau dagang, atau berkat monopoli atau situasi yang menguntungkan dari pemiliknya.12

Monopoli yang Menghasilkan Persaingan

Secara umum beberapa buruh batik akhir-akhir ini semakin banyak yang berusaha untuk memutuskan intervensi dari pihak perantara peng-order kerja batik dalam mendapatkan pesanan. Hal ini dikarenakan banyak para pembatik ini mengikuti workshop, seminar, penataran atau pertemuan kegiatan batik lainnya. Sehingga beberapa buruh secara langsung mendapatkan tawaran orderan batik dari para pengunjung pameran atau pencinta batik yang langsung melihat hasil karya mereka. Hanya saja, para buruh batik ini tidak bisa berharap banyak karena jumlah order-an yang ditawarkan hanya sedikit, bahkan terkadang hanya menerima kerjaan untuk selembar selendang saja. “Beberapa orang sekarang sudah banyak yang langsung datang ke rumah saya, berapa-pun banyaknya order-an mbatik, akan saya terima.” Ucap Ibu Wardi yang juga memiliki pekerjaan sampingan menjual emping jika pohon melinjo miliknya berbuah.

Ibu Wardi tengah menunjukkan hasil kerja yang baru saja ia selesaikan.

(Dokumentasi: Karina Rima Melati)

Adanya kemajuan ini, tidak lantas mengentaskan mereka dari keterasingan atas pekerjaan mereka sendiri, namun justru menghasilkan persaingan baru bagi individu-individu pembatik. Kini banyak buruh yang membentuk kelompok kecil terdiri tak kurang dari 5 orang saja, dan kelompok ini biasa memperolah pesanan batik dari perorangan atau badan usaha yang datang secara langsung kepada ketua anggota kelompok atau yang mewakili. Adanya hubungan secara langsung justru menjadi titik awal persaingan para kelompok yang berlomba-lomba mendapatkan order-an bahkan perebutan anggota kelompok untuk bergabung dengan kelompok yang dirasa membutuhkan pembatik lebih banyak dengan iming-iming upah lebih banyak. “Terkadang beda uang sedikit saja bisa jadi masalah, karena ada kelompok lain yang ingin merebut anggota saya dengan iming-iming beda upah 500 rupiah lebih banyak”, ujar Ibu Sinah yang kini sering dipercaya sebagai ketua yang membawahi sesama buruh batik yang terdiri dari para tetangga dan saudara-saudaranya karena prestasinya lomba juara batik dua tahun lalu.

Kompetisi adalah ekspresi yang kompleks sebagaimana menjawab pertanyaan mengenai ke-esksistensi-an hidup bagi semua, namun manusia tidak hanya bertarung atau berkompetisi antar kelas sosial yang berbeda saja, tapi juga antara individu-individu di kelas yang sama seperti halnya buruh dengan para buruh lainnya.13 Persaingan di antara kaum buruh untuk memperoleh pekerjaan akan begitu besarnya sehingga upah-upah akan diturunkan hingga suatu titik yang mencukupi bagi pemeliharaan sejumlah pekerja tertentu.14

Jalan untuk ber-swakelola secara mandiri memang telah terbuka, namun mereka masih menunjukkan mental yang sama dengan buruh yakni dengan tidak memberikan diri mereka pada proses yang lebih maju dan berkembang, mereka tidak beranjak dari keuletan tahap pelekatan lilin melalui canting saja tanpa berharap untuk akan mengalokasikan tenaga mereka untuk menambah kerja pewarnaan yang sebetulnya termasuk vital dalam proses pembatikkan. Hal ini membuat mereka tidak memiliki bargaining power atas usaha kemandirian mereka hingga upah yang mereka dapatkan meskipun tanpa perantara cenderung masih kecil dan meski ada peningkatan tentu jumlahnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Tantangan selanjutnya bagi para buruh yang memutuskan untuk mandiri dan membentuk kelompok sendiri, oleh perantara atau peng-order kerja batik yang sebelumnya biasa memberi pekerjaan batik dalam jumlah banyak kini jarang bahkan sama sekali tidak memberi order kepada mereka, hingga banyak di antaranya kehilangan order-an besar dan berusaha mendapatkan atau mencari order-an sendiri. “Pernah saya beberapa kali datang sendiri ke rumah yang janji mau pesan sama saya, trus dari pagi ke kota naik bus pakai ongkos sendiri ternyata sampai sana gak jadi dikasih order-an” cerita Ibu Sinah sembari tertunduk. Selain itu juga ada buruh yang terpaksa menjual sangat murah batik yang telah dibuat karena ternyata si pemesan tidak pernah kembali lagi untuk mengambil dan membayar upah batik yang telah selesai.

Sepinya order-an berikut persaingan yang ada di antara mereka bahkan membuat beberapa buruh membiarkan diri mereka menganggur dan bergantung dari pekerjaan lainnya seperti berjualan di pasar, mencari makanan untuk ternak sapi, atau mengolah melinjo yang banyak tumbuh di desa untuk dijadikan emping, padahal banyak di antara mereka yang telah membatik puluhan tahun sebelumnya.

Kemahiran membatik mereka kini semakin terdesak oleh perkembangan proses batik cap yang telah memiliki pasar-nya, batik cap dirasa mampu memberikan sentuhan batik yang lebih baik, cepat serta dapat menghasilkan batik dalam jumlah yang lebih banyak. Namun para buruh Desa Mbayu Sumurip tidak tertarik untuk mencoba beradu kerja dengan membuat batik cap karena selain tidak memiliki modal untuk membeli alat cap yang cenderung memiliki jenis motif yang banyak dan beragam jenis, mereka juga tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk dapat menerima pesanan batik cap ini.

Mengalami Keterasingan dari Kebahagiaan Sejati

Ibu Sinah adalah ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki memutuskan menjadi pembatik bukan karena keinginannya, akan tetapi agar memiliki jalan untuk mendapatkan upah, dan dapat meringankan beban sang suami dalam mencari nafkah dan memang mengharapkan ia menjadi pembatik. Pun banyak di antara para buruh batik rumahan di Desa Mbayu Sumurip yang bernasib serupa. “Batik merupakan karya tradisional dari nenek moyang dan merupakan pekerjaan yang unik dan harus tetap dilestarikan agar tidak hilang” begitu penjelasan Ibu Wardi ketika ditanya pendapatnya mengenai batik.

Proses seleksi alam bagi yang menjalankan profesi ini berlaku. Terutama karena adanya persaingan dengan beberapa pembatik untuk sebuah upah yang kurang dari mencukupi. Hal ini telah membentuk mental mereka untuk menjadi pengemban sekaligus pelaku warisan budaya Jawa yang kini diklaim negara tetangga sebagai bagian dari produk budaya mereka.

Buruh batik merasa tak berdaya dengan bentuk persaingan baru yang terus digulirkan, hingga terkadang mereka berpikir meninggalkan profesi mulia ini untuk sebuah usaha yang mungkin saja tidak lebih baik dalam menciptakan upah bagi kelangsungan hidup keluarga mereka. Rasa keterasingan akan kebahagiaan sejatinya terus mendera bahkan membuat beberapa di antaranya terasing oleh produk buatan mereka sendiri, tak pernah terlintas di benak untuk sekedar membuat atau menikmati batik buatan mereka sendiri yang kemudian akan dipakai olehnya dan keluarganya. Rasa tersebut hilang digerus oleh pemikiran akan kerja yang menyita tenaga ini tidak sebanding dengan upah kecil yang mereka dapatkan hingga mengharuskan mereka bekerja untuk kebahagiaan orang lain, bukan kebahagiaan mereka.

Karl Marx yang menegaskan bahwa si pekerja berada dalam hubungan dengan sebuah objek asing. Karena dari dalil ini jelaslah bahwa semakin si pekerja itu menghabiskan (mengerahkan) dirinya sendiri, semakin berkuasa dunia objektif yang asing itu jadinya yang ia ciptakan melampaui dan berhadap dirinya sendiri, semakin miskin pula ia sendiri—dunia internalnya—jadinya.15 Suatu kegiatan yang berbalik terhadap dirinya, tidak bergantung padanya atau tidak menjadi kepunyaannya hingga terjadi perenggutan diri sendiri (self estrangement).16

Dalam kaitan kasus buruh batik di Desa Mbayu Sumurip, keadaan bahwa alat kerja yang digunakan, mereka memiliki berikut bakat keterampilan membatik yang tidak semua orang bahkan kaum kapitalis miliki, namun mereka masih mengalami keterasingan. Realitas ini dimulai ketika monopoli pembagian kerja yang mereduksi kebahagiaan dalam bekerja sebagai proyeksi manusia sejati diserahkan sepenuhnya pada pelaksanaan sebagian orang yang merasa tak bertanggung jawab pada keberlangsungan kerja sebagai bagian dari proses yang bermetamorfosa pada kebahagiaan jiwa yang sejati. Tidak adanya pengorganisasian yang sehat dari jaringan tradisional hanya menguntungkan segelintir orang serta tidak dimilikinya sarana seperti tempat pewarnaan batik sebagai tempat usaha yang dapat dikelola bersama para buruh batik menutup akses pada kemandirian para buruh tersebut untuk ber-swakelola secara utuh dari proses kerja yang sepatutnya dihargai.

Profesi pembatik tulis tidak akan tergantikan oleh mesin-mesin yang melegitimasi proses berkarya, tangan-tangan terampil pembatik juga tak akan tergantikan oleh proses singkat jenis batik cap dan proses tekstil sekalipun. Pembatik yang dahulu merupakan proses padat karya ini menjadi marjinal oleh selera masyarakat yang kini justru beralih pada produk modern dan menjauhkan diri dari tradisi negeri. Pun kini pembatikan banyak ditinggalkan oleh pekerjanya karena ketakutan akan keberlangsungan hidupnya sendiri. Hal ini menjadi sebuah ironi budaya dalam kemajemukan ekonomi yang banyak didengungkan sebagai kemajuan pemikiran umat manusia. Globalisasi sebagai pemacu perkembangan peradaban memang kurang berakrab dengan kenyataan hidup kaum buruh, mereka terpojok oleh situasi yang tidak menguntungkan hingga membentuk virus paradigma baru dari yang awalnya merupakan sebuah kerja mulia pengemban kelangsungan tradisi budaya Jawa yang telah mendarah daging kepada peralihan profesi baru yang membelenggu naluri kreativitas semata-mata untuk sebuah harapan lain akan kebahagiaan hidup yang tiada pernah cukup.

sumber: http://etnohistori.org/edisi-genealogi-gerakan-dan-studi-perempuan-indonesia-buruh-batik-tulis-perempuan-dalam-pusaran-kapitalisme-oleh-karina-rima-melati.html

  1. Friedrich Engels. Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (Jakarta: Kalyanamitra, 2004), hal. 232.
  2. Baskara T. Wardaya, SJ. Marx Muda, Marxisme Berwajah Manusiawi (Yogyakarta: Buku Baik, 2003), hal. 36.
  3. Handout 6: Dasar-dasar Teori Kebudayaan Marx & Engels, oleh George Junus Aditjondro.
  4. Andi Muawiyah Ramly. Peta Pemikiran Karl Marx, Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis (Yogyakarta: LKiS, 2000), hal. 151.
  5. Franz Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 115.
  6. Friedrich Engels. Tentang Kapital Marx (Bandung: Ultimus, 2006), hal. 76.
  7. Zacky Khairul Uman. “Keunggulan Batik Sebagai Warisan Budaya: Pendekatan Industri Budaya untuk Masa Depan Pelestarian Tradisi dan Daya Saing Bangsa”. Dalam Kumpulan tulisan Hasil Lomba Menulis Batik. (Jakarta: Yayasan Kadin, 2007), hal. 7.
  8. Sewan Susanto. Seni Kerajinan Batik Indonesia (Yogyakarta: Balai Penelitian Batik dan Kerajinan, 1980), hal. 307.
  9. Toeti Soerjanto, The History of Traditional Batik, an Outline for the Third ASEAN Youth Painter Workshop and Exhibition (Yogyakarta: Institute for Research and Development of Handicraft and Batik Industries, 1997), p. 2.
  10. Seminar tentang batik cap oleh Ibu Toeti Soerjanto, Sabtu 15 Desember 2007 di Batik Danar Hadi.
  11. Toeti Soerjanti, op cit., hal. 11.
  12. Karl Marx. Naskah-naskah Ekonomi dan Filsafat 1844 (Bandung: Hastra Mitra, tanpa tahun), hal.19.
  13. Friedrich Engels, The Condition of The Working Class in England. (Great Britain: Granada Publishing Limited, 1979), p. 108.
  14. Karl Marx, op. cit., hal. 23.
  15. Karl Marx. op. cit., hal. 71.
  16. Ibid., hal. 75.