Lansia-Melalui-Usaha-Pembuatan-Batik

Karena sumber daya manusianya lansia, maka Tien tidak pernah menargetkan produksi per minggu atau per bulan. “Mereka mau datang dan menikmati membuat batik saja, saya sudah senang. Tidak ada target produksi,” kata Tien.

Memasuki masa pensiun bukan berarti berhenti untuk terus berkarya. Buktinya, banyak orang bisa terus berkarya di masa tuanya. Salah satunya adalah Tien Hendro yang saat ini berusia 65 tahun.

Wanita asal Yogyakarta ini adalah pemilik Sanggar Batik Jenggolo. Sebelumnya ia tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Balai Besar Kerajinan dan Batik, Dinas Perindustrian Provinsi Yogyakarta.

Tien bercerita, setelah pensiun, dirinya terpilih sebagai Ketua Perkumpulan Lansia (lanjut usia) di wilayah Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta. “Saya bersyukur sekali karena sejak dulu memang berniat mengajak lansia ikut membatik. Dengan terpilihnya saya, maka aksesnya semakin mudah,” kata Tien ke KONTAN belum lama ini.

Sejak di bangku kuliah, Tien Hendro memang sudah mencintai dunia tekstil, terutama batik. Ia sekolah di jurusan teknologi tekstil di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta.

Begitu pensiun, Tien mengaku, belum rela berhenti berkarya di bidang batik. “Saya selalu ingin menularkan ilmu kepada orang lain,” katanya.

Kebetulan jumlah lansia di RW 01 Kelurahan Pandeyan, Umbulharjo cukup banyak. Kegiatan para lansia biasanya berladang. Itu pun tidak rutin setiap hari. Ada juga pensiunan guru dan pensiunan pegawai yang hanya duduk-duduk di rumah sambil mengurus cucu.

Di tahun 2009, Tien mengajukan proposal permintaan dana ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dinas Pendidikan Nasional. Proposalnya diterima dan ia berhasil mendapat bantuan modal sebesar Rp 8 juta.

Uang itu digunakan untuk membeli peralatan membatik dan kain. Awalnya, para lansia diajak berlatih membuat batik dan kain jumputan. Aktivitas itu rutin dilakukan setiap hari Sabtu. Lama-lama mereka menikmati dan sekarang mereka membuat batik tiga kali seminggu.

Total lansia yang bergabung kala itu ada 30 orang. Tapi karena ada lansia yang uzur dan kondisi fisik tidak sehat, sekarang jumlahnya tinggal 20 orang.

Sanggar Batik Jenggolo memproduksi kain batik tulis, batik cap, dan batik jumputan. Karena sumber daya manusianya lansia, maka Tien tidak pernah menargetkan produksi per minggu atau per bulan. “Mereka mau datang dan menikmati membuat batik saja, saya sudah senang. Tidak ada target produksi,” kata Tien.

Minimal seminggu ada tiga potong batik tulis. Kalau batik cap dan kain jumputan bisa 10 potong. Batik cap dan batik jumputan siap pakai dibanderol seharga Rp 100.000-Rp 150.000 per potong. Sedangkan batik tulis harganya Rp 250.000-Rp 1 juta. Dalam sebulan, bisa menghasilkan omzet Rp 10 juta–Rp 15 juta.

sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/memberdayakan-lansia-melalui-usaha-pembuatan-batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *